Bangkit dari keterpurukan

                Semua masalah yang terjadi dalam sebuah usaha, sering kita lihar di masyarakat sekitar bahkan  beberapa sudah biasa dialami oleh berbagai pengussaha di Indonesia,  banyak masalah diantaranya customer tidak membayar atau macet, atau supplier berdatangan menagih hutang, bahkan yang paling menyedot energi ialah debt collector datang. Bahkan pekerja kita silih berganti keluar masuk tidak ada yang betah.

                Dan dalam keluarga, hubungan dengan keluarga tidak harmonis, anaknya tidak akrab, sebagai suami dan ayah dari keluarga namun tidak semua berjalan seperti semestinya,  apabila kita lihat permasalahan-permasalahan yang diatas biasanya bermula dari saat perusahaan tumbuh dan saat kita mengenyampingkan hal-hal lain yang semestinya ini dasar kehidupan kita.

                Semua hal ini harus kita kembalikan kepada sumber solusi yaitu kita menyadari bahwa semua masalah yang terjadi adalah teguran dari Allah, masalah datang sekian lama adalah karena kita terlalu mengandalkan kepandaian kita, dan kemampuan kita, ketika kita semakin mengandalkan diri kita, maka semakin lelahlah dan semakin ruwetlah urusan kita, bahkan semakin tidak jelas akhirnya,

                Introspeksi dan merenung, berfikir yang lebih dalam, barulah kita fahami bahwa sumber masalah sesungguhnya, mulai terlihat, hutang, permasalahan karyawan, keluarga, supplier, marketing, hubungan saudara adalah bukan sumber masalah, namun kita lah sumber masalah. Saat itu  cobalah untuk menemukan konsep diri, bila telah bertemu, perbaikilah konsep diri, mentalitas, perilaku, kepemimpinann keyakinan, kesabaran, keterampilan, dan yang paling mendasar ialah hubungan pribadi kita dengan Allah swt.

                Perbaikilah apa yang harus kita lakukan,  untuk mmeperbaiki keadaan, bila  kita tidak introspeksi kita hanya akan menunjuk dan menyalahkan, pihak orang lain, semuanya salah  kecuali diri kita sendir, bila hal ini telah disadari o;eh pengusaha yang dalam kesulitan maka inilah awal ia dapat kembali menyelesaikan masalah,

                Anak yang tidak akur dan menjauh dari kita, hubungan suami istri yang tidak hangat, kepemimpinan di perusahaan, dan hubungan dengan klient, bukanlah mereka yang tidak kompeten, namun kitalah yang memiliki kepemimpinan yang buruk, kitalah yang memiliki masalah sehingga terlihat mereka terlibatkan masalah karena kita. Ubahlah diri kita sendiri, karena tidak mungkin kita dapat  mengubah orang lain,

                Dengan kesadaran diatas barulah kita mulai berfikir bagaimana cara kita bermain, bukan bagaimana caranya kita menang. Karena how to win dan how to play sangatlah berbeda, ketika kita mengejar ho to win, kita berusaha keras mengejar hasil, sedangkan how to play kita mengejar segala sesuatu dengan cara meembangun kwalitas diri. Kwalitas kemampuan dan kwalita pribadi.

                Setelah kita melakukan hal diatas barulah kita sadari, orang-orang disekitar kita memahami bahwa kita telah berubah, akhirnya kita memahami bahwa banyak sekali orang yang menghendaki kita berubah menjadi lebih baik. Dengan memiliki dukungan dari orang atau team terdekat dan diri kita, setelah mendapat hal tsb, barulah kita merasa menjadi pribadi yang baru, meskipun masalah belum tentu tuntas, namun kita ibarat seseorang yg sudah siap menghadapi masalah, segala amunisi dalam peperang kita sudah pegang dan siap kita gunakan, tinggal bagimana cara kita Bertawakal kepada Allah dan menyerahkan segala urusan hanya kepada Nya.